Kenali Racun Gender

Dewasa ini kehidupan dikuasai pandangan hidup kapitalistik. Segala sesuatu diukur dengan nilai materi. Kehidupan kaum perempuan pun dirasuki paham ini. Maraknya tuntutan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan di segala bidang atau dikenal dengan istilah Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) adalah salah satu dampak cara pandang kapitalistik ini. Atas nama kesetaraan gender, mereka menuntut perempuan diberi kebebasan dalam menentukan peran.

Sekilas, tuntutan keadilan dan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan sarat dengan pesan-pesan mulia. Namun bila dicermati, KKG justru akan menghancurkan kehidupan masyarakat dari institusi keluarga sendiri. Misalnya suami tak diperbolehkan melarang istri bekerja.

Bayangkan, betapa banyak suami yang masuk bui gara-gara melarang istrinya bekerja. Padahal, bisa jadi pelarangan itu dilakukan dengan pertimbangan untuk memprioritaskan kebutuhan anak akan pendampingan dan perhatian ibunya. Atau bisa jadi untuk melindungi si isteri dari pelecehan dan kekerasan di lingkungan pekerjaan-nya. Bukankah hal itu justru akan membahayakan keutuhan keluarga?

Di sisi lain, perempuan malah diprovokasi dan digiring keluar rumah (bekerja) yang dikemas dengan istilah ‘kemandirian ekonomi’. Dengan demikian, saat istri sibuk bekerja, tidak menutup kemungkinan peran utamanya sebagai istri, ibu dan pengatur rumah tangga, akan terabaikan. Bukankah wajar bila dampak yang kemudian terjadi dari kondisi ini adalah meningkatnya angka perceraian, perselingkuhan, dan anak-anak terlantar dari pengasuhan ibunya?

Dampak nyata kehancuran masyarakat dan generasi ini sudah terbukti di negara yang dipuji-puji UNDP (United Nations Development Program) karena keberhasilannya menerapkan keadilan dan kesetaraan gender, KKG 50:50, yaitu negara-negara Skandinavia. Di negara-negara itu justru terjadi banyak kerusakan struktur sosial. Angka perceraian meningkat sekitar 100 persen dalam waktu 20 tahun; persentase anak yang dilahirkan di luar nikah hampir melebihi 50 persen (menurut The Economics); kenakalan remaja meningkat; kriminalitas meningkat 400 persen (1950-1970); anak-anak yang bermasalah (alkoholik, narkoba dan tindak kekerasan) meningkat 400 persen (1970-1980). Hal tersebut juga terjadi di Amerika Serikat.

This entry was posted in IT. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kenali Racun Gender

  1. animusparagnos says:

    Keutuhan keluarga tidak dapat diukur dari kemandirian ekonomi seorang istri. Mengenai kaum perempuan yang mulai meninggalkan wilayah domestik (rumah tangga) merupakan hak yang sepatutnya sudah diterima sejak dulu, yaitu hak untuk memilih. Memilih apakah ia ingin berada di sektor domestik atau sektor publik.
    Tidak ada yang namanya kodrat, peran utama perempuan sebagai “Ibu Rumah Tangga”, kodrat sebagai ibu rumah tangga merupakan konstruksi sosial masyarakat, karena kodrat yang sebenarnya hanya bersifat fisiologis.
    Tidak adil kemudian ketika perceraian, perselingkuhan dan anak terlantar, kaum perempuan menadi pihak yang dipersalahkan, karena keutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama (istrim dan suami). Permasalahan-permasalahan yang timbul tersebut bersifat kasuistik.
    Benarkah suami melarang istri bekerja karena kekhawatiran belaka, ataukah karena ego? Bisa saja kerusakan struktur sosial seperti di Skandinavia yang dituduhkan kepada perempuan-perempuan bekerja, merupakan akibat dari sikap suami yang tidak dapat menerima dan mendukung keputusan istri untuk bekerja.
    (Animusparagnos – demi kesetaraan gender)

  2. Vifa says:

    Secara umum sebenarnya bisa diketahui pada hakikatnya dimana posisi laki-laki dan perempuan. Secara fisik, sifat, mental/psikologis, dll antara laki-laki & perempuan pada dasarnya memang diciptakan berbeda, namun perbedaan tersebut bukan berarti membedakan derajat antara laki-laki & perempuan di mata Sang Pencipta tetapi lebih karena perbedaan tugas & tanggung jawab. Yang namanya adil tidak mesti berarti sama atau harus setara..kita jangan terjebak dengan adanya istilah persamaan gender, atau pun lainnya..jangan mempermasalahkan sesuatu yang sudah hakiki.

  3. syza says:

    Islam tak pernah mengekang perempuan, justru aturan2 islam ada untuk memuliakan kaum wanita dan keseimbangan institusi rumah tangga.
    Islam mengamanahi kaum wanita sebagai ibu dan menejer rumah tangga. Ibu bagi generasi yg berkepribadian Islam, kuat secara aqidah dan mumpuni secara keilmuan baik tsaqofah islamnya maupun ilmu2 dunianya.
    Dan hal itu akan sulit tercapai pada ibu yg keluar rumah, bekerja boleh selama pekerjaan itu tak melalaikan tugasnya sbg ibu dan menejer rumah tangga.
    Bayangkan ketimpangan yg terjadi pd ibu2 bekerja full time pengasuhan anak2 diserahkan pada baby sitter atau neneknya sedangkan pendidikan Islamnya diserahkan pd institusi sekolah. Dan yg terbentuk adalah generasi2 yg lemah aqidahnya terdidik oleh paham hedonis kapitalistik.
    Ide kesetaraan gender hanya akan semakin menjauhkan kaum wanita dari identitas keislamannya. Bahkan sampai pd level ketaatan pada suami yg diabaikan. Kaum kuffar tak kan berhenti menghancurkan nilai2 keislaman kaum muslimin bahkan sampai pd institusi terkecil institusi rumah tangga. Ide KKG hanya akan menghancurkan intitusi rumah tangga muslim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s