Pengemis Punya Honda CR-V !?

Percayakah Anda seorang pengemis bisa memiliki mobil Honda CR-V? Percaya atau tidak di Surabaya terdapat seorang pengemis, bukan pengemis biasa tentunya melainkan bos pengemis. Katakan saja namanya Cak To, dia telah mengemis selama puluhan tahun, sejak tahun 1990 saja ia bisa mendapatkan 1,5 juta per bulan dan semenjak tahun 2000 dia tidak perlu lagi untuk mengemis karena sekarang dia telah mengelola sekitar 54 orang pengemis.

 

Setiap harinya ia mendapat setoran dari anak buahnya, ia memang tidak menargetkan berapa jumlah setoran per harinya kepada anak buahnya, tapi rata-rata per harinya bisa mencapai 200-300 ribu, dengan kata lain pendapatannya per bulan bisa mencapai 6 – 9 JUTA !!! Saat ditanya apakah ia tidak malu akan profesinya maka jawabannya adalah “Yang penting halal”. Benarkah halal??

 

Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang meminta-minta padahal ia mampu, maka sesungguhnya ia hanya memperbanyak untuk dirinya bara api jahannam“. (HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban).

 

Dari Sahl bin Hanzhaliyah, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa meminta-minta sementara ia memiliki kecukupan maka sesungguhnya ia sedang memperbanyak bagian dari neraka. Ia [Sahl] bertanya, “Apakah batasan kecukupan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw, “Sekedar kecukupan untuk makan siang dan makan malam.” [Shahih, Abu Dawud 1629, Ahmad IV 180-181, dari Rabi'ah bin Yazid dari Abu Kabsyah Al Alawi]

 

Sungguh menyedihkan, untuk kebanyakan pengemis di Indonesia menjadikan mengemis adalah sebagai suatu profesi. Mereka (para pengemis) bahkan mempunyai cara untuk meningkatkan ‘kemampuan’ dalam menarik iba orang-orang. Kemudahan mereka mendapat kucuran dana dari meminta-minta tanpa harus bersusah payah yang mampu menutupi kebutuhan pokok hidup mereka menjadikan ‘profesi mengemis’ begitu menjamur di Indonesia.

 

Hal ini sangatlah berbeda dengan kondisi orang fakir di zaman Rasulullah , walau mereka tidak memiliki apa-apa tetapi mereka pantang untuk menengadahkan tangan mereka untuk meminta-minta dan menggadaikan harga diri mereka. Mereka yakin rezeki ada di tangan Allah, sedangkan kewajiban kita berdoa dan berusaha, pantang menyerah untuk menyambung hidup. Saking kuatnya sifat ini, saudara-saudara Muslim lainnya menganggap mereka bagaikan orang yang kaya dan mampu. Rasulullah bahkan pernah mencium tangan seorang sahabat yang sangat kasar lantaran banyak digunakan bekerja untuk menghindari dirinya dari meminta kepada orang lain

 

Allah tidak melarang kita untuk bersedekah, namun untuk menghadapi pengemis-pengemis gadungan kita pun harus bersedekah dengan cerdas agar ‘profesi mengemis‘ tidak semakin menjamur. Tengoklah Rasululullah Saw , tatkala datang kepadanya seorang yang mengadu kekurangan harta dan belitan hutang, beliau lantas memberinya sebuah kapak. Lalu menyuruhnya kembali beberapa minggu kemudian. Berangkatlah sahabat ini menuju hutan dan mengumpulkan kayu bakar untuk dijual. Dan ternyata benar, sahabat tersebut telah dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, melunasi hutang serta memiliki sedikit simpanan untuk hari esok.

 

AADBI (Ada Apa Dengan ‘Bank Islam’)

oleh Prof. Umar Ibrahim Vadillo

Sejak awal, keberadaan ‘Bank Islam’ telah didukung dan dianjurkan oleh para pelaku riba. Tujuan mereka hanyalah untuk membawa berjuta-juta umat Muslim di seluruh dunia – yang secara umum akan menolak penggunaan bank dan segenap institusi ribawi- ke dalam sistem moneter dan finansial internasional.

Apa yang disebut-sebut sebagai ‘Bank Islam’ tidak lain merupakan bagian dari institusi ribawi yang bertentangan dengan Islam. ‘Bank Islam’ merupakan suatu usaha aneh untuk menggoyahkan, sebagai mana yang terjadi dalam kristen, sikap tegas Islam dalam menolak riba selama 14 abad.

Sejak awal, keberadaan ‘Bank Islam’ telah didukung dan dianjurkan oleh para pelaku riba. Tujuan mereka hanyalah untuk membawa berjuta-juta umat Muslim di seluruh dunia – yang secara umum akan menolak penggunaan bank dan segenap institusi ribawi- ke dalam sistem moneter dan finansial internasional. ‘Negara Islam’ adalah salah satu rekaan dari kekuatan kolonial, dimana istilah ini memiliki arti yang bertolak belakang dengan Islam, dan memiliki sifat anti Islam, yang bermuara pada berakhirnya penjajahan kolonial secara wilayah dan dimulainya penjajahan kolonial gaya baru melalui sistem finansial.

Lembaga konstitusi model barat (yang menjadi model bagi Revolusi Perancis), telah melahirkan sistem pembatasan alam yang tidak tidak masuk akal, terciptanya sebuah sistem birokrasi   parlemen yang represif, diperkenalkannya pajak, hadirnya sebuah penipuan besar dimana penggunaan uang kertas dan riba (bank) dilegalisasikan – semua ini bertentangan dengan Islam. Maka ‘Bank Islam’ tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebuah produk khas yang jahat dan rendah dari ‘Negara Islam’.

Untuk memasyarakatkan ‘Bank Islam’, sebuah ilmu baru yang dikenal sebagai ‘Ekonomi Islam’ diperkenalkan oleh berbagai universitas-universitas di Amerika dan Eropa. Walaupun kedua konsep ekonomi yang tidak mempunyai hubungan satu sama lain ini salah dan dipandang rendah oleh kalangan Muslim yang memegang teguh tradisi Islam, tidak dapat dipungkiri bahwa kedua konsep ini telah menjadi suatu dasar pembenaran yang dipakai oleh para birokrat dan pengelola negara yang mengusung konsep ‘Islam Modern’. Para ekonom Islam yang mengenyam pendidikan kelas dua dari berbagai universitas Barat tidak akan dapat melihat bagaimana pondasi ekonomi telah diporak-porandakan secara keilmuan untuk kemudian dipraktekkan di Eropa.

Pemikiran rasional dari sebuah ilmu positif yang banyak dipertanyakan di Eropa ini malah dibela mati-matian oleh para birokrat baru yang masih terpesona oleh pendidikan yang mereka terima dari barat. Bahwa banyak kalangan yang mendukung gerakan modernisasi ini memiliki ketulusan, seberapapun naifnya, adalah suatu kenyataan yang tidak dapat ditolak, waktu dan kedewasaan akan menujukkan sisi lain yang pahit dari ideologi dan ilmu modern yang mereka percayai ini. Kembali kepada tradisi Islam bukan hanya menjadi obat terbaik guna melawan gerakan modernisasi di banyak negeri Muslim, bahkan di tangan sejumlah generasi muda Muslim barat, kembali kepada Islam telah menghasilkan sesuatu yang melampaui modernisme dan puncak dari peradaban Eropa yang kita kenal selama ini.

Untuk lebih detail, klik link berikut :
www.islamhariini.org

Ahmadiyah Ditolak di Malaysia, Pakistan, dan Arab Saudi

Menteri Agama Maftuh Basyuni menyatakan penolakan ajaran Ahmadiyah bukan hanya datang dari umat Muslim Indonesia saja. Umat Muslim dari Malaysia, Brunei , Pakistan dan Arab Saudi juga menentang aliran tersebut. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta (12/6).

Menag juga membeberkan sejarah kelahiran Ahmadiyah. Ahmadiyah didirikan di Kota Qodian, India, oleh Mirza Ghulam Ahmad pada 23 Maret 1889. Dalam perkembangannya Ahmadiyah terbagi menjadi dua aliran yaitu Ahmadiyah Qodian dan Ahmadiyah Lahore.

Ahmadiyah Qodian berkeyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Sementara Ahmadiyah Lahore berpendapat Mirza Ghulam Ahmad sebagai pembaharu.

Ahmadiyah masuk ke Indonesia pada 1925 dalam bentuk organisasi. Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) sebagai pengikut Ahmadiyah Lahore dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sebagai pengikut Ahmadiyah Qodian.

Namun dalam perkembangannya, JAI di Indonesia mendapat penolakan dari umat Islam. Penolakan itu dalam bentuk keberatan dan pengrusakan bangunan rumah, masjid dan musala milik Ahmadiyah di berbagai daerah.

“MUI mengeluarkan fatwa tahun 1990 menyatakan bahwa Ahmadiyah Qodian adalah jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Hal yang sama disampaikan oleh PBNU, Muhammadiyah dan beberapa organisasi Islam lainnya,” beber Menag.

Dalam rangka menyelesaikan persoalan tersebut, Depag bersama Jaksa Agung, Mendagri, dan Mabes Polri serta beberapa tokoh agama  mengupayakan dialog dengan pengurus Jemaat Ahmadiyah.

Namun, dari hasil pantauan, hasil dialog tidak dilaksanakan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI).

Hal ini yang menyebabkan rapat Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) pada 16 April 2008 merekomendasikan kepada pemerintah untuk mengeluarkan SKB agar warga JAI diberi perintah dan diberi peringatan keras untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama

Penghancur Agama

Hancurnya agama menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani ada 4 hal :
1. Tidak mengamalkan apa yang diketahui
    Sangat disayangkan banyak Muslim yang mengetahui shalat, zakat, dan puasa wajib tetapi tidak melaksanakannya. Banyak pejabat yang tahu korupsi itu haram, tapi tetap melakukannya. Banyak Muslimah yang mengetahui menutup aurat/berjilbab itu wajib tapi enggan melakukannya dengan berbagai dalih seperti belum siap, panas, atau hanya adat orang arab. Banyak ulama dan Muslim yang mengetahui menegakkan Syariat Islam secara kaffah adalah wajib tapi tidak mau memperjuangkannya, dengan dalih tidak relevan lagi, mengancam NKRI, dll.. Padahal tidak mungkin Allah menurunkan dan menetapkan suatu hukum yang tidak bisa diterapkan.

2. Mengamalkan apa yang tidak diketahui
    Tidak sedikit orang awam agama yang tidak mengetahui status halal haram apa yang dikerjakannya. Seperti menjadi staff keuangan bank berbasis riba, mengadu untung dengan kuis seperti via sms, makan di restoran yang mungkin ternyata haram, dll. Banyak Muslimah yang menganggap baik profesi artis (penyanyi, penari, pemain film). Tidak sedikit Muslim yang memandang HAM dan demokrasi itu mulia, bahkan penuh kebangaan memperjuangkannya. Semua itu dilakukan mungkin karena tidak tahu keharamannya. “Siapa saja yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka haram (tertolak)” (HR Muslim). Sesungguhnya tiap manusia pun akan dimintai pertanggungjawaban atas ketidaktahuan mereka.

3. Tidak mencari tahu apa yang tidak diketahui
    Banyak Muslim yang awam agama, tetapi tidak terdorong untuk mempelajari dan mendalami agama. Enjoy dalam kebodohan agamanya sendiri.

4. Menolak orang yang mengajari apa yang tidak diketahui
    Tidak sedikit Muslim yang menolak ketika diajarkan (didakwahi) sesuatu oleh orang lain. Rasulullah saw bersabda, “Sombong itu adalah menolak kebenaran”, (HR Muslim). Sedangkan sombong yang dipahami kebanyakan di Indonesia adalah Riya.

Keempat hal tersebut memang telah menghancurkan agama, akibatnya hukum Allah dijauhkan, hukum thagut dilestarikan. Kewajiban agama banyak ditinggalkan, larangan sering dilakukan dan menjadi suatu kebiasaan. Adat istiadat menjadi ibadah, ibadah tercampur dengan khurafat dan maksiat.

Saat kondisi demikian Islam akan kembali asing, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “ Islam mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali terasing. Berbahagialah orang-orang yang dipandang asing, yakni mereka yang selalu melalukan perbaikan-perbaikan di tengah-tengah umat yang berlomba-lomba melakukan kerusakan”.

AS Kuasai Istana

Negara ini memang aneh. Seorang menteri kesehatan sempat ditolak masuk ke laboratorium NAMRU (Naval Medical Research Unit). Padahal jelas-jelas lembaga itu berada di Litbang Departemen Kesehatan, instansi yang secara hirarki berada di bawah menteri kesehatan. Kantornya juga bukan instansi diplomatik.

Usut punya usut, NAMRU beroperasi tanpa ada MoU dengan Indonesia. Soalnya kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat habis sejak tahun 2000 lalu. Selama hampir delapan tahun, lembaga militer itu bekerja secara ilegal. Meski begitu, tak ada yang berani mengutak-atik lembaga itu. Konon ini karena sudah ada joint statement (pernyataan bersama) antara Presiden AS George W Bush dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pertemuan di Istana Bogor, 2006.

Tidak banyak yang mengetahui secara detail apa yang dikerjakan NAMRU di Indonesia. Selama ini mereka menutupi aktivitasnya dengan kedok penelitian penyakit menular. Ketertutupan itu semakin nyata ketika peneliti-peneliti bule itu dilengkapi dengan kekebalan diplomatik. Baju diplomatik ini menjadikan mereka sulit dijamah oleh aparat keamanan Indonesia.

Banyak yang curiga, mereka melakukan aktivitas intelijen di Indonesia. Bahkan seorang pengamat intelijen mengatakan bahwa agak aneh NAMRU pun meneliti alur laut Indonesia, suatu yang sama sekali tak terkait dengan urusan penyakit. NAMRU juga pernah mengambil sampel darah tentara yang sedang bertugas di Irian Jaya. Di samping itu, tidak ada yang tahu apa yang dibawa keluar dan masuk Indonesia oleh para peneliti tersebut karena bagasi mereka mendapat kekebalan diplomatik sehingga isinya tak bisa diperiksa oleh aparat keamanan.

Penelitian NAMRU di Indonesia sebenarnya tak terlalu istimewa. Laboratoriumnya pun biasa saja. Nah yang justru istimewa adalah keberadaan peneliti mereka yang memperoleh kekebalan diplomatik. Mereka bisa mengambil apa saja milik kita dan menjelajah ke mana saja dengan baju diplomatiknya. Dan di dunia kesehatan, ternyata sampel-sampel penyakit (virus, bakteri, protozoa) dan sebagainya sungguh berbahaya bila jatuh ke tangan militer (baca: AS). Bahan-bahan itu bisa dikembangkan menjadi senjata biologi. Bukan tidak mungkin dari penyakit-penyakit ini dikembangkan senjata biologi untuk menghancurkan negeri ini pada waktunya. Mereka tak perlu lagi melawan bangsa ini dengan senjata berat tapi cukup menyebarkan penyakit. Tentara mereka tinggal masuk saja dengan aman karena telah disuntik vaksin antipenyakit yang disebarkan. 

Anehnya lagi, ketika banyak pihak (termasuk Dephan dan Deplu) meminta NAMRU ditutup, ada pihak di Istana Negara yang membabi buta mempertahankannya. Amerika sendiri ngotot tetap bercokol. Bahkan untuk itu Amerika mengirimkan Menkesnya untuk melobi SBY. Presiden tak berkutik dan minta NAMRU dipertahankan.

Semakin nyata kualitas pemimpin negeri ini. Sekadar bilang ’’tidak’’ saja tak punya nyali. Padahal bahaya besar tak bisa lagi ditutupi. Akankah kita membiarkan keadaan ini?

Saatnya negeri ini berubah. Bukan saatnya lagi kita menghamba kepada sesama manusia. Saatnya kita hanya menghamba kepada Allah SWT. Di sanalah kemuliaan akan terwujud nyata. 

FUI: Amerika Serikat di Balik Insiden Monas

Suara Islam   
Thursday, 05 June 2008

Suara-islam.com-Ibarat pepatah lama yang mengatakan ada udang di balik batu, maka berhati-hatilah karena ada pihak asing di balik insiden Monas. Pihak asing ini khususnya Amerika Serikat diduga terkait dengan insiden Monas. Hal ini diungkap oleh anggota Forum Umat Islam, Ahmad Sumargono, sore ini (5/6).

Dalam jumpa pers yang digelar oleh FUI di Hotel Sofyan Cikini Jakarta ini, Ahmad Sumargono menyebutkan indikasi AS bermain di belakang insiden Monas adalah kunjungan pihak AS menjenguk para korban dari massa AKKBB. “Hal ini diindikasikan oleh kuasa usaha AS John A Hefern yang datang membesuk para korban dari kalangan AKKBB,” katanya.

Selain itu, masih kata Sumargono, Kedubes AS juga menggelar jumpa pers dan membuat rilis yang isinya mengecam insiden tersebut dan mendesak pemerintah Indonesia untuk segera bertindak terkait kasus itu. Sumargono pun meminta kepada pemerintah memeriksa dugaan berbagai sokongan dana dari Amerika Serikat yang diperoleh sejumlah tokoh dan berbagai lembaga yang mendukung AKKBB.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen FUI M.Al Khaththath mengingatkan adanya berbagai upaya pemecahbelahan umat yang didukung oleh AS. Pasca insiden Monas yang diikuti penangkapan Habib Riziq dan anggota FPI telah menimbulkan konflik horizontal yang meluas, terutama di kalangan umat Islam sendiri. Seperti yang diketahui, di beberapa daerah, terjadi kekisruhan antar massa organisasi Islam yang dilatarbelakangi insiden Monas ini.

Khaththath juga mengingatkan kepada pihak-pihak yang mencoba mengail di air keruh tanpa mengetahui permasalahan sesungguhnya. “Kita melihat begitu banyak berbagai komentar dan hujatan dari para tokoh yang tidak memahami masalah atau sengaja memojokkan gerakan Islam,” ujarnya. (Suara-Islam)

Sekilas Valentine Day

Kamu tentunya bakalan kaget en terbengong-bengong kalo ternyata acara Valentine’s Day nggak ada sama sekali dalam ajaran Islam. Suer. Kagak bohong. Ternyata ma­lah kebiasaan para penyembah berhala. Kaum pagan ini, mengadakan ritual penyem­bahan kepada para dewa yang diyakini menjadi sumber kehidupan manusia di muka bumi ini.

Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa awalnya orang-orang Romawi merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 Februari yang diberi nama Lupercalia. Peringa­tan ini adalah seba­gai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) serta Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Acaranya? Laki dan perempuan ber­kumpul, lalu saling memilih pasangan­nya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya—tukar kado. Selanjutnya? Hura-hura sampai pagi!

Seiring dengan berjalannya waktu, pihak gereja—yang waktu itu agama Kristen mulai menyebar di Romawi—memindahkan upacara peng­hormatan terhadap berhala itu menjadi tanggal 14 Februari. Dan dibelokkan tujuannya, bukan lagi menghormati berhala, tapi meng­hormati seorang pendeta Kristen yang tewas dihukum mati. Konon kabarnya gara-gara ia memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Itu terjadi sekitar tahun 273 Masehi. Nama acaranya pun bukan lagi Luper­calia, tapi Saint Valentine. Dalam perkem­bangannya, peristiwa tersebut lalu dikaitkan dengan gebyar Valentine’s Day.

Jadinya, alih-alih acara itu dirayakan untuk menghormati perjuangan para rahib mereka, tapi udah berubah total menjadi ritual ‘mendewakan’ cinta. Cinta antar lawan jenis. Waduh, sudahlah bukan berasal dari Islam, eh, jadi ajang baku syahwat yang dilarang agama. Weleh weleh, pastinya kamu yang ikut-ikutan dalam hajatan Valentine’s Day itu ternyata merayakan peringatan yang bukan berasal dari Islam. Nggak tahu, apa nggak mau tahu?

Padahal, Islam udah wanti-wanti lho untuk tidak asal ikut aja segala sesuatu yang kamu belum tahu tentangnya. Catet itu. Firman Allah Swt.:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (TQS al-Isrâ’ [17]: 36)

Rasulullah saw. juga mengingatkan kita melalui sabdanya: Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi? (HR Bukhari Muslim)

Lebih jelas lagi adalah apa yang disebut dalam surat al-Furqan tatkala menjelaskan ciri-ciri orang beriman. Allah Ta’ala menyebutkan satu di antaranya adalah mereka yang tidak menyaksikan kepalsuan. Firman-Nya:

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (adz-Dzûr)…” (QS al-Furqân [25]: 72)

Menurut para ahli tafsir al-Quran seperti Ibnu Abbas, lafadz adz-Dzûr itu artinya adalah ‘ayyadul musyrikîn–hari raya orang-orang musyrik. Masih menurut mereka, dengan begitu haram hukumnya bagi kaum muslimin untuk hadir, apalagi merayakan hari raya di luar Islam.

Dan bicara soal hari raya, bukankah Islam sudah memberikan alternatif hari raya yang jauh lebih baik dari hari raya manapun? Nabi kita bersabda,“Sesungguhnya Allah telah mengganti hari raya dengan dua hari raya yang lebih baik bagi kalian; idul fitri dan idul adha.” (al-Hadits)

Emansipasi ; Honey or Toxin??

Sobat muda muslim, kampanye eman­sipasi wanita saat ini masih anget untuk dibi­carakan. Soalnya, masih banyak juga yang keu­keuh mengamalkan ide itu. Para aktivis femi­nisme tentunya paling getol dong ngomongin dan ngamalin paham ini. Mereka, rajin banget ngomporin kaum Hawa untuk terjun di luar rumah dengan lebih banyak waktu. Sementara di rumah, cukup malam hari saja. Walah?

Teman-teman remaja puteri pun udah lama kenal lho dengan ajaran ini. Maklumlah, sejak kita diajarin, “Ini Budi, Ini Ibu Budi” udah dikenalkan tokoh pergerakan wanita, namanya RA Kartini. Kata bapak dan ibu guru waktu SD itu, ibu Kartini adalah salah satu tokoh pembebasan kaum wanita. Wanita yang tadinya cuma ngurusin ‘dapur-sumur-kasur’, tapi diperjuangkan hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan dan kegiatan lainnya yang selama ini hanya bisa dilakukan kaum pria.

Sayangnya, cita-cita RA Kartini kemudian ‘dimodifikasi’ pihak-pihak tertentu menjadi lebih luas dan lebih liar. Gimana nggak, wong kemudian cita-cita Kartini ini sempat dihu­bungkan dengan perjuangan feminisme. Bahkan dianggap sebagai peletak dasar perjuangan hak-hak kaum feminim di negeri ini. Waduh, emang tergantung siapa yang bikin sejarahnya sih. Kasihan sekalee. Lebih kasihan lagi yang ngikutin seruan kaum feminis saat ini. Hih, kasihan deh lu..! J

Sobat muda muslim, jaman kiwari bisa kita saksikan maraknya kiprah kaum wanita di luar rumah. Kalo sekadar mendapatkan pendidikan, kita pikir nggak masalah ya. Sebab, pendidikan bukan monopoli anak cowok aja. Anak puteri juga berhak untuk mendapatkannya. Setinggi apa pun. Tapi, kalo udah memasuki kehidupan umum lebih jauh lagi, bahkan sampe tega mengorbankan harga diri, nah itu yang malah berbahaya.

Nggak percaya? Lihat aja gimana teman-teman remaja puteri (seleb) yang kemudian ikhlas terjun di dunia film, iklan, sinetron, dan model. Tapi sejujurnya dan sejatinya, teman-teman puteri itu sedang ditipu. Lho kok bisa? Maklum saja, dalam masyarakat kapitalis seperti sekarang ini, wanita telah menjadi komoditas alias barang yang diperjual-belikan. Mereka dijadikan sumber tenaga kerja yang murah atau dieksploitasi untuk menjual barang. Barang jenis industri mutakhir seperti mode, kosmetik dan hiburan, hampir sepenuhnya memanfaatkan ‘jasa’ wanita. Pendidikan dan media-massa menampilkan citra wanita yang penuh glamoursensual dan fisikal. Dengan kata lain, penuh sensasi, dan tentu nggak ketinggalan, bodi! Wuih, kasihan banget deh.

Sobat muda muslim, pada masyarakat bebas kayak begini, wanita dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif, kecuali kepentingan industri. Bener lho, nggak boong. Lihat aja, tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen. Bayangin aja betapa konyolnya, iklan mobil mewah rasanya belum lengkap kalau tak hadir di sampingnya gadis berbodi aduhai. Permen rasanya belum manis kalau tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual mengunyah permen. Inul, yang memakai kaos dan celana jeans ketatdi-shot kameramemperlihatkan keampuhan minuman berenergi, Sakatonik Greng. Lha ini maksudnya promosi minuman atau promosi Inul “ngebor” Daratista? Tulalit banget deh!

Sayang, kaum wanita banyak yang nggak ngeh dengan masalah ini. Bahkan parahnya, banyak pula yang menikmatinya. Itu artinya pula, emansipasi yang kebablasan ini adalah racun bagi kehidupan kaum wanita. Celaka dua belas. Ati-ati deh!

Before You Sleep

SEBELUM TIDUR (Tafsir Haqqi)

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara,yaitu :

1. Sebelum khatam Al Qur’an.

2. Sebelum membuat para nabi memberimu manfaat di hari akhir.

3. Sebelum para muslim meridhai kamu.

4. Sebelum kau laksanakan haji dan umrah….

“Bertanya Aisyah : “Ya Rasulullah…. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?

“Rasul tersenyum dan bersabda : “Jika engkau tidur bacalah :

Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an.

Membaca shalawat untukku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat.

Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meridhoi kamu.

Dan perbanyaklah bertasbih,bertahmid , bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umrah”