Busi Yang Pas Untuk Pulsar Apa Ya ??


Salah satu komponen vital pengapian dan cukup murah untuk dilakukan upgrade adalah busi.  Walau mesin bajaj dts-i sudah menganut double busi untuk memaksimalkan pengapian agar sempurna tapi kebanyakan rider masih belum puas atau coba-coba ganti busi standar Pulsar dengan yang lain. Bahkan ada yang mencoba mengkombinasikan busi kiri kanan dengan tipe dan merk yang berbeda guna mencari kombinasi busi yang pas buat si kebo.

Termasuk penulis juga yang termasuk penasaran untuk mencoba beberapa busi dan mengkombinasikannya dengan busi lain di Pulsar 180 UG4. Tidak panjang lebar berikut hasil test beberapa busi di Pulsar 180 UG4 ane (maaf pengukuran tidak menggunakan mesin dyno test, tapi menggunakan feeling test saja,hehe..) :

1. Kiri Champion RG4HC, Kanan RG4HC : kita ketahui 2 kombinasi busi adalah settingan standar pabrikan, busi ini bertipe busi dingin setara busi NGK CR9 dan Denso IU27. Harganya murah 10rb saja satuan. Pengalaman menggunakan busi standar mesin mudah start, tenaga langsung berasa walau mesin masih dingin. Rpm idle saat mesin dingin dan panas tidak banyak berbeda kisaran 1000-1100 Rpm. Hanya saja kalau mesin sudah panas rpm atas berasa sedikit tertahan dan lebih lama mencapai top speed.

2. Kiri Autolite 4303, Kanan Autolite 4303 : Cari-cari referensi di internet dan forum dapatlah Autolite 4303 yang katanya bagus (katanya pengganti busi Splitfire TPC430 yang katanya juga cocok di Pulsar). Harganya 15rb per biji. Hasilnya dengan busi ini mesin mudah start dan mirip RG4HC rpm idle saat dingin dan panas tidak banyak berubah kisaran 1000-1100 Rpm. Secara performa ternyata relatif sama saja dengan busi standar Champion RG4HC.

3. Kiri NGK CR8EGP, Kanan NGK CR8EGP : Ada yang bilang juga ini busi sakti untuk Pulsar, jika kedua busi di atas bertipe chopper atau tembaga maka busi NGK CR8EGP ini ujung elektrodanya platinum. Harganya sedikit lebih mahal dari tembaga, kisaran 25rb-35rb. Hasilnya saat pakai busi ini mesin lebih susah start, saat start harus dibantu putar gas dulu beberapa lama sekitar 1-2 menit baru mesin bisa stasioner (padahal setelah stasioner tidak diganti-ganti). Busi ini dilihat dari kodenya CR8 harusnya 1 tingkat lebih panas dari CR9 atau RG4HC atau IU27 tapi dibanding busi standar sepertinya lebih dingin, mungkin pengaruh karena platinumnya kali ya, akibatnya jika mesin masih dingin dibawa jalan seperti sedikit brebet dan tenaganya malah lebih loyo dari busi standar. Namun jika sudah dipakai lama, terdapat perbedaan Rpm idle yang cukup significant antara mesin dingin dan panas yaitu kisaran 800Rpm saat dingin dan 1300-1500 Rpm saat panas.

Kesimpulan saya berarti hasil pembakaran lebih sempurna ketika mesin sudah panas dibanding busi standar, karena dengan settingan karbu yang tidak berubah bisa dikail Rpm yang lebih tinggi. Saat dibawa jalan lama (kisaran 15-30 menit) terbukti, terdapat perbedaan yang significant dari tenaga si Pulsar 180 UG4. Rpm cepet naik dari Rpm bawah sekalipun, bahwa ketika gear shift ke gear 4 di kecepatan 45an kpj dengan mudah putar gas speed langsung naik begitu ringan ke 80 kpj (padahal waktu saya boncengan, jalan menanjak di fly over Rawamangun, ada Vixion mencoba menyusul dari belakang sendirian lalu saya tancap gas dan gear shift ke 5 motor langsung ngacir kecepatan > 100Kpj dan Vixion semakin tertinggal). Wah dahsyat juga nih  busi, boncengan aja berasa sendiri..tapi sayang baru beringas kalau mesin sudah cukup panas. akibatnya setelah dipakai lama tenaganya tidak sedahsyat awal-awal, karena saat dicek businya item (tanda pembakaran tidak sempurna),,mungkin dikarenakan pembakaran saat mesin dingin tidak lebih baik dibanding busi standar.

4. Kiri NGK CR8RGP, Kanan Autolite 4303 : Untuk mensiasati mesin susah start dan pembakaran tidak sempurna saat mesin masih dingin, akhirnya terpikir dikombinasikanlah dengan mengkombinasikan busi kanan dengan busi setara standar yaitu Autolite 4303. Karena busi utama ada di sebelah kiri yang selalu aktif dari 0-puncak Rpm maka dipasang di kiri NGK CR8EGP yang terbukti ganas tenaganya kalau sudah panas, sedangkan busi kanan Autolite 4303 membantu pembakaran sampai Rpm 6rb dan mesin saat dingin. Hasilnya mesin lebih mudah start di kondisi dingin ini dengan sedikit putar gas beberapa detik. Lumayan tidak semudah jika keduanya busi standar tapi tidak sesulit jika keduanya busi NGK CR8EGP. Hasilnya saat dingin dibawa jalan motor berasa lebih enak (tidak brebet), dan saat panas tenaga CR8EGP masih bisa dirasakan walau tidak seganas saat keduanya digunakan bersamaan. Tenaga Rpm bawah sedikit lebih baik dibandingkan jika keduanya busi standar, tapi saat Rpm atas mesin tidak nahan dan tetep cepat mencapai top speed (karena saat Rpm atas > 6rb hanya busi kiri yang aktif).

5. Kiri NGK CR8EGP, Kanan NGK CPR6EA : Dapat di forum juga busi kanan dipasang NGK CPR6EA yang sebetulnya ini busi Honda Karisma yang 3 tingkat lebih panas dari standar Pulsar. Penasaran dicoba juga apakah lebih baik dari kombinasi di point 4. Harganya 12rb saja. Saat dicoba start memang lebih mudah dengan kombinasi ini, saat dibawa jalan juga tenaga di Rpm bawah lebih berasa dibandingkan kombinasi no. 4. Tapi..ada tapinya nih, entah kenapa kalau mesin panas banget (dibawa jalan jauh, macet) Rpm bawahnya malah jadi lemot, analisa sok tahu ane mungkin karena ini busi ga cocok untuk pulsar yang mesinnya relatif lebih panas, sehingga saat kepanasan pembakarannya malah ga optimal (kegerahan kali dia :) )

Dari beberapa kombinasi di atas saat ini kombinasi point no. 4 yang ane rasa lebih nyaman, Rpm bawah dan atas, baik kondisi mesin dingin dan panas lebih optimal. O iya kondisi Pulsar yang digunakan masih standar, CDI & koil masih asli bawaan pabrik.  Belum sempat menggunakan busi Iridium karenanya harganya yang mahal,he,,dan dari beberapa review kalau mesin standar katanya ga beda significant jadi mending platinum aja. Next-nya penasaran coba kombinasi kanan dengan CR9EB berdasarkan situs http://www.sparkplugcrossreference.co.uk/1231-ngk/1245-champion/rg4hc-rg4hc-rg4hc.html, tapi belum nemu nih busi. Silahkan bagi yang punya pengalaman menggunakan busi-busi di Pulsar atau motor lain juga boleh dong dishare di sini,,busi apa yang terbaik di motor Anda, busi standarkah ? platinumkah? iridiumkah ??

About these ads

12 Comments

  1. onepercent said,

    June 5, 2013 at 8:42 pm

    Wah salut nh buat yg punya blog. Berani riset kombinasi busi. Kalo pengalaman saya busi kiri pake ngk cr8egp dan busi kanan pake ngk cr8e kalo pake tipe yg cpr kurang pas dengan karakter pulsar yg lebih panas! Elektrodanya terlalu nongol tapi isolator keramiknya ga ikutan nongol! Gampang berkerak! O ya saya pake pulsar 200dtsi tahun 2008 di lego 2011 sekarang pake p135 karena udah ga tahan sama lalu lintas sekarang makanya saya ganti pake pies

  2. calmk1d said,

    June 5, 2013 at 9:08 pm

    Iya sih emang yang cpr nongol bgt elektrodanya, makanya ga enak. Klo liat spark cross reff emang padanannya rg4hc spark ori pulsar cr9e (cr jg). wah sayang p200nya, ane masih betah ma ug4 biar depok-jkt macet,he..thx dah mampir & mau share di blog pemula ini :D

  3. penyemplak Pulsar 200 tahun 2008 said,

    June 5, 2013 at 11:18 pm

    Kalau saya cukup Busi bawaan dari pabrikan atau (Champion RG4HC)/Bosh UR3DC(Resistive).
    Kalau bisa cop busi bawaan pabrik jangan diganti dengan cop busi dengan nilai resistansi 0 Ohm.
    Rumus daya (watt) P=V.I

    Dimana : P = Daya listrik dalam satuan Watt (W)

    V = Tegangan listrik dalam satuan Volt (V)

    I = Arus listrik dalam satuan Ampere (A)

    Seperti yang kita ketahui untuk mencari Tegangan (V) dapat dihitung dengan rumus V = I.R, dimana I = Arus dan R = Hambatan, maka Rumus diatas dapat ditambahkan menjadi :

    P = V. I

    P = I.R.I atau P = I2.R
    Berarti nilai hambatan berbanding lurus dengan daya nya.
    Semakin besar nilai hambatan busi maka daya yang dihasilkan semakin besar.
    Sekedar info koil bawaan bajaj series itu voltasenya sudah besar bandingkan dengan motor-motor yang di tes di http://www.honda-tiger.or.id/forum/showthread.php?t=26806.

    Pulsar 200:
    Spek STD

    Output koil :
    Run 1. 27000 ; 18000 ; 17000
    Run 2. 26000 ; 17000 ; 16000

    Output CDI :
    Run 1. 150 ; 230 ; 280
    Run 2. 150 ; 220 ; 280
    Run 3. 150 ; 250 ; 280

    Kalau saya saran saya pulsar series tinggal main di BBM sesuai di kompresi mesin atau hematnya menggunakan penambah oktan biar setara pertamax.
    Sumber : http://learnelectro.wordpress.com/tag/rumus-daya/
    http://www.saft7.com/komparasi-resistansi-busi/
    http://www.honda-tiger.or.id/forum/showthread.php?t=26806

    • calmk1d said,

      June 6, 2013 at 10:02 am

      Mantap penjelasannya, tapi apakah CDI P200 dengan P180 UG4 sama om? hm,,tapi cop busi 0 resistant ko pada dijual ya,,korelasinya kualitas api sendiri sebenarnya ditentukan dari apa om klo gitu, apa dari daya, voltase, kuat arus ? Lalu kaitannya statement dari http://www.saft7.com/komparasi-resistansi-busi/ :
      “Semakin besar nilai Suppression Resistor berarti semakin besar hilangnya daya listrik yang dikirim ignition coil untuk membuat percik api pada busi. Akibatnya semakin besar nilai Suppression Resistor tersebut akan memperkecil percik api, kecuali jika kabel busi diganti dengan yang beresistansi kecil dan berdiameter besar”

      jika P=I.R.I, harusnya semakin besar nilai resistant maka daya juga akan semakin besar yang harusnya api semakin besar, tapi statement di atas jika nilai resistor makin besar maka makin besar daya listrik yang hilang untuk percik api?

      Pernah baca artikel dari Tomy Huang (BRT) katanya kualitas busi tidak semata-mata dari besar kecilnya voltase, cuma tidak dijelaskan kalau begitu dari apa aja. Karena saya sendiri merasakan perbedaan yang cukup terasa antara RG4HC dan CR8EGP (terutama dalam kondisi mesin sudah panas).

  4. penyemplak Pulsar 200 tahun 2008 said,

    June 6, 2013 at 12:02 pm

    Pernah baca artikel dari Tomy Huang (BRT) katanya kualitas busi tidak semata-mata dari besar kecilnya voltase, cuma tidak dijelaskan kalau begitu dari apa aja. Karena saya sendiri merasakan perbedaan yang cukup terasa antara RG4HC dan CR8EGP (terutama dalam kondisi mesin sudah panas).
    ——————————————————————————————-
    Sekedar menambahkan Mungkin diliat dari kode busi bawaan pulsar standar yaitu busi tipe dingin. Dikarenakan Bajaj Pulsar menggunakan 2 busi dalam satu ruang bakar dengan heat range yang sama maka panas yang dihasilkan mesin Bajaj series sangat panas dibanding mesin-mesin biasa oleh karena itu dari pabrikan diakali dengan penggunaan tipe busi dingin agar performa mesin tidak drop ketika motor DTS-i tersebut diajak jalan berlama-lama (touring) dikarena kan jumlah kalor yang terbuang dari panas mesin di minimalisir dengan penggunaan busi tipe dingin.

    ========================================================
    jika P=I.R.I, harusnya semakin besar nilai resistant maka daya juga akan semakin besar yang harusnya api semakin besar, tapi statement di atas jika nilai resistor makin besar maka makin besar daya listrik yang hilang untuk percik api?

    Pertanyaan bro nyambung dengan kok cop busi 0 ohm malah banyak dijual?
    cop busi pabrikan dengan menggunakan resistansi fungsinya adalah untuk memfokuskan api sama kalau kita menggunakan groudstrap pada koil, 9 power atau tdk stabilizier yang berbahan dasar magnet.
    cuma cop busi pabrikan masing kurang mampu memfokuskan arus liar dari spul magnet-cdi-koil.

    Kalau percikan api bisa diakali dengan penggunaan groudstrap pada koil standar atau mengganti dengan koil racing voltase tinggi.
    tetapi dengan menggunakan groundstrap pada koil standar jilatan percikan api jadi lebih pendek namun lebih tebal.

    Sepengalaman saya memakai pulsar jangan telat mengganti oli dan jangan ragu menambahkan oli mesin ketika kilometer telah mencapai 800 km walaupun pada saat 800 km penggunaan motor tersebut sedang enak-enaknya dikendarai karena oli mesin pada mesin motor sudah mulai encer.

    • calmk1d said,

      June 6, 2013 at 1:29 pm

      klo cop busi std pabrik beresistansi+groundstrap harusnya lebih bisa membuat api fokus klo bgtu ya?cop busi 0 resistant ga perlu ada karena malah bikin api liar.

      masalah oli memang selalu dipantau lewat jendela kaca, klo berkurang ditambah.

  5. penyemplak Pulsar 200 tahun 2008 said,

    June 6, 2013 at 11:46 pm

    betul bro.
    Pulsar tinggal stel magnet dan klep udah ngacir kok.
    Hehehe :D
    Salam toet-toet

    • onepercent said,

      June 7, 2013 at 12:32 am

      hormat buat penyemplak pulsar 200 yg ni! Bener2 mantap penjelasan di atas! Kalo pulsar 200dtsi agak boros busi kalo di bawa nyantai! Itu pengalaman saya lho! Setelah ditelusuri ternyata cdi p200dtsi tuh masih bersumber dari kumparan tegangan tinggi di statornya alias cdi ac! Tapi manajemen pengapiannya udah dc digital! Mirip2 sama yamaha scorpio! Kalo desain cdi ac pada putaran bawah tegangan dan arusnya tergantung putaran mesin berarti kalo di bawa nyantai misal rpm di bawah 5rbu besar arus dan tegangannya belum optimal tapi cukup untuk menghasilkan percikan api di ujung busi! Hal ini juga terjadi di rx king saya! Karena 22nya sama2 pake cdi ac! Tp rx king manajemen pengapiannya belum dc! Itu aja yg membedakan!

      • penyemplak Pulsar 200 tahun 2008 said,

        June 7, 2013 at 12:43 am

        Hormat juga bro.
        Terima Kasih infonya.
        Salam toet-toet.:D

      • calmk1d said,

        June 7, 2013 at 7:23 am

        salam juga,,diiit..diiit (mirip suara klakson Avanza)

  6. Permadi said,

    April 7, 2014 at 12:57 pm

    P=I R I. Yg terjadi bukan kalo R nya makin besar trus P nya makin besar. Tp P nya ttp sama namun I nya makin kecil. Karna yg saya tau kalo resistor dipasang seri (ky di cop busi) tu memang mereduksi I, namun nilai V nya tetep sama aja. Understand ?

  7. alvin said,

    April 9, 2014 at 12:08 am

    ko bisa P dan V nya sama aja saat R diperbesar dan hanya I yang mengecil?

    P=I.R.I
    misal I=3A,R=2ohm,maka P=3x2x3=18watt dengan nilai V=I.R maka 3×2=6 Volt

    misal R diubah jadi 3ohm dan P dikatakan dianggap tetap karena perubahan R tadi maka nilai I kuadrat=P/R atau I2=18/3=6 maka I=√6=2.45A maka V=I.R atau 2,45×3=7,35volt

    Kenaikan R memang menurunkan I, tapi untuk menghasilkan P tetap Volt ikut naik juga,klo Volt tetap nilai P malah berkurang

    Cmiiw


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: