Negara ini memang aneh. Seorang menteri kesehatan sempat ditolak masuk ke laboratorium NAMRU (Naval Medical Research Unit). Padahal jelas-jelas lembaga itu berada di Litbang Departemen Kesehatan, instansi yang secara hirarki berada di bawah menteri kesehatan. Kantornya juga bukan instansi diplomatik.
Usut punya usut, NAMRU beroperasi tanpa ada MoU dengan Indonesia. Soalnya kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat habis sejak tahun 2000 lalu. Selama hampir delapan tahun, lembaga militer itu bekerja secara ilegal. Meski begitu, tak ada yang berani mengutak-atik lembaga itu. Konon ini karena sudah ada joint statement (pernyataan bersama) antara Presiden AS George W Bush dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pertemuan di Istana Bogor, 2006.
Tidak banyak yang mengetahui secara detail apa yang dikerjakan NAMRU di Indonesia. Selama ini mereka menutupi aktivitasnya dengan kedok penelitian penyakit menular. Ketertutupan itu semakin nyata ketika peneliti-peneliti bule itu dilengkapi dengan kekebalan diplomatik. Baju diplomatik ini menjadikan mereka sulit dijamah oleh aparat keamanan Indonesia.
Penelitian NAMRU di Indonesia sebenarnya tak terlalu istimewa. Laboratoriumnya pun biasa saja. Nah yang justru istimewa adalah keberadaan peneliti mereka yang memperoleh kekebalan diplomatik. Mereka bisa mengambil apa saja milik kita dan menjelajah ke mana saja dengan baju diplomatiknya. Dan di dunia kesehatan, ternyata sampel-sampel penyakit (virus, bakteri, protozoa) dan sebagainya sungguh berbahaya bila jatuh ke tangan militer (baca: AS). Bahan-bahan itu bisa dikembangkan menjadi senjata biologi. Bukan tidak mungkin dari penyakit-penyakit ini dikembangkan senjata biologi untuk menghancurkan negeri ini pada waktunya. Mereka tak perlu lagi melawan bangsa ini dengan senjata berat tapi cukup menyebarkan penyakit. Tentara mereka tinggal masuk saja dengan aman karena telah disuntik vaksin antipenyakit yang disebarkan.
Anehnya lagi, ketika banyak pihak (termasuk Dephan dan Deplu) meminta NAMRU ditutup, ada pihak di Istana Negara yang membabi buta mempertahankannya. Amerika sendiri ngotot tetap bercokol. Bahkan untuk itu Amerika mengirimkan Menkesnya untuk melobi SBY. Presiden tak berkutik dan minta NAMRU dipertahankan.
Semakin nyata kualitas pemimpin negeri ini. Sekadar bilang ’’tidak’’ saja tak punya nyali. Padahal bahaya besar tak bisa lagi ditutupi. Akankah kita membiarkan keadaan ini?
Saatnya negeri ini berubah. Bukan saatnya lagi kita menghamba kepada sesama manusia. Saatnya kita hanya menghamba kepada Allah SWT. Di sanalah kemuliaan akan terwujud nyata.